Masih Banyak Kelas Pertandingan Belum Terisi

paparan-klasifikasi-disabilitas-atlet-bulu-tangkis
PAPARAN: Ketua Litbang NPCI Pusat yang juga Dekan Fakultas Keolahragaan UNS Sapta Kunta Purnama memberi paparan klasifikasi disabilitas atlet bulu tangkis di Syariah Hotel Solo, Jumat (27/9) petang. (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Pelatihan Klasifikasi Disabilitas Olahraga

SOLO – Geliat olahraga disabilitas yang terus dikembangkan badan otoritanya, National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), kini semakin turut mengapungkan nama Indonesia di tataran Asia Tenggara dan Asia. Bahkan sejumlah atlet difabel kini tengah memburu tiket untuk bersaing menuju Paralympic Tokyo 2020.

Kendati demikian, pengembangan potensi atlet olahraga disabilitas di Tanah Air itu belum maksimal. Menurut Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang) NPCI Pusat, Sapta Kunta Purnama, masih banyak kelas di sejumlah cabang olahraga itu yang belum terisi atlet, sesuai klasifikasi disabilitasnya.

‘’Di cabang parabadminton misalnya, kelas SL-3 putri, kita tidak punya. Padahal juara dunia kelas itu pukulannya jelek, serta posturnya agak gemuk sehingga tak lincah. Kalau kita punya potensi atletnya, lalu kami tempa, saya yakin bisa menyaingi sang juara dunia,’’ tandas Kunta, Minggu (29/9).

Kelas SL3 antara lain atlet yang mengalami keruasakan pada satu atau kedua tungkai bawah, serta keseimbangan jalan atau berlarinya tidak bagus.

Kursi Roda

Hal tersebut juga dia sampaikan pada Pelatihan Klasifikasi Olahraga Disabilitas di Syariah Hotel Solo, Rabu-Jumat (25-27/9). Kegiatan yang digelar NPCI Jateng bekerja sama dengan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jateng itu diikuti 100 tenaga klasifikasi dan koordinator cabang olahraga disabilitas.

Kunta yang juga Dekan Fakultas Keolahragaan UNS Surakarta menambahkan, tim parabadminton NPCI juga punya sedikit atlet klasifikasi wheelchair (WH) atau kursi roda. Padahal banyak medali emas diperebutkan untuk kelas-kelas itu. ‘’Jadi, banyak pekerjaan rumah kita untuk mengisi kekosongan kelas pertandingan demi terus meningkatkan prestasi Indonesia,’’ tuturnya.

Nara sumber lain pada pelatihan itu di antaranya pelatih pelatnas atletik NPCI Slamet Widodo, dan pelatih pelatnas tenis meja NPCI Suwarno. Di ajang tenis meja Asia Tenggara dan Asia, menurut Suwarno juga tidak banyak rival yang bertanding di kelas WH-2.

‘’Seandainya kita punya atlet kelas itu, lalu digembleng maksimal, peluangnya besar untuk bersaing di peringkat atas. Maka bagi para peserta pelatihan yang mengetahui ada potensi atlet di daerahnya untuk kelas-kelas itu, silakan segera hubungi kami untuk mengecek kondisi klasifikasinya,’’ kata dia.(Setyo Wiyono)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini