Otot Tendon Achilles Terputus, Tetap Rajin Jogging

muchsin-doewes
FOTO DIRI : Muchsin Doewes, guru besar ilmu kedokteran olahraga UNS Surakarta . (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

BUKAN Prof Dr dr Muchsin Doewes MARS PFark AIFO kalau mudah jera. Otot tendon achilles pada kaki kiri dan kanannya sudah pernah putus, meski kini tersambung lagi dalam operasi medis. Namun guru besar ilmu kedokteran olahraga UNS Surakarta tersebut tak mengendurkan aktivitas jogging dan jalan cepat.

‘’Saya tetap rutin jogging atau jalan di kawasan perbukitan Kemuning, Ngargoyoso dan lereng lain Gunung Lawu. Dari Solo kadang naik motor. Kalau ada lomba atletik master, saya juga akan tetap ikut. Misal otot tendon putus lagi, toh bisa disambung lagi,’’ kata dia sambil tertawa, saat singgah ke lapangan tenis Fakultas Keolahragaan (FKor) UNS Surakarta kampus Manahan, pekan lalu.

Ayah tiga anak tersebut memang telah puluhan tahun sangat gemar berolahraga atletik dan aktif mengikuti berbagai kejuaraan atletik master. Tak hanya di Tanah Air. Suami Andi Madinah tersebut bahkan telah mengikuti sederet kejuaraan di berbagai belahan dunia. Bukan hanya di Asia pula, tetapi juga di kawasan Eropa dan Benua Amerika.

Baca : Lilyana : Banyak Pebulutangkis Muda yang Potensial

Di Brasil

Bahkan putusnya otot tendon achilles kaki kanannya, dialami saat mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik Master di Porto Alegre Brasil tahun 2012. Namun setelah kejadian itu, pria yang kini telah memasuki usia 71 tahun tersebut tak lagi turun di nomor lari sprint jarak 400 meter. Profesor yang lebih suka dipanggil ‘’Bang’’ tersebut lebih fokus ke sprint 100 meter dan 200 meter.

‘’Tapi kejuaraan atletik master akan tetap saya ikuti,’’ tandasnya.

Muchsin Doewes lahir di Solo, 31 Mei 1948. Lulus dengan titel Drs Med dari UII pada 1974, dia kemudian meraih gelar profesi dokter dari UNS tahun 1978. Muchsin selanjutnya mendalami ilmu khasiat obat di UGM tahun 1985. Studi S2 Kajian Administrasi Rumah Sakit dijalani di UI Jakarta, sedangkan studi S3 Kedokteran Olahraga di Unair Surabaya diselesaikan 1996, serta meraih guru besar pada 2010.

Sejak muda, dia suka jalan kaki menyusuri lereng-lereng Gunung Lawu di kawasan Kemuning, Segara Gunung dan Tawangmangu. Menurutnya, kebiasaan olahraga secara teratur membuat kemampuan fisik seseorang menjadi terlatih.

‘’Kegiatan aerobik akan memacu kelancaran metabolisme tubuh. Kerja otot, paru-paru, aliran darah dan jantung bisa terjaga secara baik, jika selalu dilatih,’’ jelasnya. (Setyo Wiyono)

Baca : Presiden Sepakbola Bulgaria Mengundurkan Diri, Pascapelecehan Rasis Bulgaria Vs Inggris

Editor : Budi Sarmun