Minim, Atlet yang Peroleh Intervensi Psikologis

psikologis-untuk-atlet
Dekan Fakultas Keolahragaan UNS Dr Sapta Kunta Purnama didampingi pakar psikolog olahraga Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret (UNS), Febriani Fajar Ekawati memberikan leterangan soal intervensi psikologis untuk atlet. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Intervensi atau peranan psikologis memegang peran penting dalam performa, stamina dan prestasi atlet. Namun sayangnya,  Selama ini, intervensi psikologis oleh psikolog baru diberikan kepada atlet di tingkat pelatihan nasional (pelatnas). Jika dikalkulasi,  jumlahnya tak lebih dari 20 persen yang mendapatkan pendampingan psikolog. Sisanya, intervensi psikologis hanya dilakukan oleh pelatih.

“Di pelatnas atau klub-klub besar memang sudah ada yang didampingi psikolog. Tapi persentasenya masih sangat kecil, sekitar 20 persen. Lainnya hanya didapatkan dari pelatih dan belum melakukan sesuai standar,” papar pakar psikolog olahraga Fakultas Keolahragaan (FKor) Universitas Sebelas Maret (UNS), Febriani Fajar Ekawati.

Baca : Tanaya Ingin Teruskan Prestasi Joko Supriyanto

Dikemukakan, intervensi psikologi kepada atlet dan pelaku olahraga tentu berbeda dengan psikologi umum. Febriani menyebut tingkat stres pada atlet berbeda dengan stres pada orang biasa. Maka bentuk tesnya pun akan berbeda.Ia mencontohkan intervensi psikologis banyak berperan untuk atlet disabilitas. Terlebih saat mereka menunggu hasil klasifikasi.

Momen penantian itu, tidak sedikit atlet disabilitas yang mengalami serangan kecemasan luar biasa. Sebab jika dia tidak lolos, artinya dia tidak bisa bertanding.Dekan Fakultas Keolahragaan UNS, Dr Sapta Kunta Purnama menambahkan, referensi psikologi olahraga di Indonesia agak sulit. Untuk cabor bulutangkis, psikologis olahraga sudah diterapkan dalam pembinaan sejak 1967 silam. Namun di cabor lain belum.

“Sudah diterapkan, tapi belum maksimal dilakukan,” katanya. 

Baca : Kejurnas NPCI, Ratusan Atlet Bakal Bersaing di Solo

Namun sisi positifnya, saat ini psikologi olahraga mulai menjadi perhatian oleh dunia pendidikan. Terbukti dengan adanya mata kuliah Psikologi Olahraga dan mata pelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah. Selain nilai psikomotor, nilai afektif juga dipertimbangkan. Sehingga kurikulum atau materi pembelajaran dapat berpengaruh terhadap sikap siswa.

“Intervensi psikologis itu bisa menyumbang prestasi juga bergantung dari cabang olahraga (cabor). Panahan, contohnya, itu sangat tinggi sekali peran intervensi psikologisnya. Disiplin terkait psikologis harus betul-betul diterapkan. Misalnya, mereka dalam kecemasan atau kalut, tidak akan muncul performa terbaik,” kata Dr Kunta. (Evie Kusnindya )

Baca : Lilyana : Banyak Pebulutangkis Muda yang Potensial

Editor : Budi Sarmun