Telan Kekalahan, Sepak Bola CP Mendapat Pelajaran Berharga

Foto-sepak-bola-cp2
LATIHAN: Sejumlah awak tim pelatnas sepak bola celebral palsy (CP) berebut bola dalam latihan di lapangan Baturan, Colomadu.(suaramerdekasolo.com/Setyo wiyono)

*Tunduk dari Tim KKO pada Uji Coba

SOLO,suaramerdekasolo.com – Tim pelatnas sepak bola celebral palsy (CP) National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) mendapat pelajaran berharga. Skuad yang selalu menang dalam serangkaian laga uji coba selama training camp (TC) di Solo, sejak 1 Mei 2019 lalu itu, akhirnya mencatat kekalahan.

Tim racikan pelatih Anshar Ahmad tersebut kalah dari tim sepak bola Kelas Khusus Olahraga (KKO) SMPN 1 Surakarta pada partai latih tanding di lapangan Kotabarat, Kamis (31/10). Yahya Hernanda dkk kalah tipis, 1-2 dari tim normal berawak para pemain berusia 15 tahun.

‘’Kami lebih dulu memimpin dengan gol yang disepak Mahdianur setelah bekerja sama dengan Yahya Muhaimi, pada babak pertama. Namun kemudian, pada babak kedua justru anak-anak kebobolan dua gol balasan,’’ kata Anshar, Jumat (1/11).

Dia menambahkan, awak tim yang diperkuat pemain asal Solo Adi Joko Saputra dan atlet Wonogiri, Timin tersebut, sebenarnya bermain bagus. Namun mantan pemain Arseto Solo itu juga menyadari, tim KKO merupakan lawan berat karena telah mendapatkan gemblengan selama lebih dari dua tahun.

Baca: Berita Duka : Bek Timnas U-16 Alfin Lestaluhu Tutup Usia

Kurang Cepat Naik

Anshar ingin mengetahui, bagaimana jika tim pelatnas proyeksi ASEAN Para Games (APG) Filipina 2020 itu, mendapat tekanan dari tim yang lebih kuat. Dari sisi kelincahan dan kecepatan, sudah pasti anak-anak yang mengalami gangguan motorik, kalah kemampuan.

‘’Transisi anak-anak, kurang cepat naik saat menyerang. Mereka khawatir dilewati, karena pemain KKO lebih lincah, sehingga anak-anak lebih banyak menunggu,’’ tutur sang pelatih yang dibantu asisten Afif Bayu itu.

Situasi tersebut jadi bahan evaluasi berharga bagi timnya yang akan berlaga dengan sistem ‘’7 a side football’’ tersebut. Jika awak pelatnas itu lebih maju pada lapangan berukuran 70 x 50 meter itu, mereka justru lebih bisa menahan bola lawan.

Pada laga itu, Anshar terpaksa memasukkan bek Timin untuk menggantikan posisi striker pelatnas Cahyana yang cedera pinggang. Tak ada lagi pengganti, karena Ahmad Yuliarsi yang biasa main di sektor sayap, juga sedang sakit.

‘’Kiper Yusuf pun habis jatuh, sehingga hanya Amin Rosyid yang siap sebagai penjaga gawang. Secara umum, kerja sama tim bagus. Cuma saat menghadapi tekanan, mereka harus selalu diingatkan,’’ ujar sang pelatih.(D11)

Simak: Fencer Solo Raih Sembilan Tiket Menuju PON Papua 2020

Simak Juga: Fencer Solo Raih Sembilan Tiket Menuju PON Papua 2020

Editor: Budi Sarmun