Karisma Evi Geser Fokus ke APG Filipina dan Paralypic Tokyo 2020

Karisma Evi Geser Fokus ke APG Filipina dan Paralympic Tokyo
BANGGA: Sprinter NPCI asal Boyolali, Karisma Evi Tiarani bangga menunjukkan medali emas dan penghargaan yang diraihnya pada World Pra Athletics Dubai 2019 di Uni Emirat Arab, Jumat (15/11).(suaramerdekasolo.com/dok Pelatnas NPCI)

*Tak Puas dengan Satu Pencapaian di Dubai

SOLO,suaramerdekasolo.com – Selepas menggenggam gelar juara dunia lari 100 meter T42/T63 serta memecahkan rekor sejagat pada World Para Athletics Championships Dubai 2019 di Uni Emirat Arab, sprinter asal Boyolali Karisma Evi Tiarani langsung mengalihkan konsentrasinya. Atlet pelatnas National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) itu bersiap menghadapi serangkaian agenda internasional.

ASEAN Para Games (APG) Filipina 2019 yang dilaksanakan pada Januari 2020, jadi fokus terdekatnya. Setelah itu ada single event para atletik di Tunisia dan Paralympic Games Tokyo 2020. ‘’Berharapnya sih, semua bisa menghasilkan medali emas. Soalnya saya tidak ingin merasa puas dengan satu pencapaian saja,’’ kata Evi melalui pesan whatsapp, Jumat (15/11).

Karena itu, sepulang dari Dubai dia akan giat berlatih lagi demi meningkatkan performa. Program-program yang diberikan jajaran pelatih akan dijalankannya dalam pelatnas NPCI di Solo, sebagai bekal menghadapi agenda lomba berikutnya.

Baca: Buah Disiplin Tinggi dan Kerja Keras Karisma Evi

BAca juga:Wow…Sprinter Boyolali Juara Dunia 100 Meter

Minder Postur Lawan

Di balik suksesnya di Dubai, ternyata jalan yang dilalui Evi tidak terlalu mulus. Atlet 18 tahun itu sempat dibekap flu, serta minder terhadap postur tinggi lawan-lawannya. ‘’Maka saat lomba, saya hanya fokus lari secepat-cepatnya dan berpikir untuk menjadi personal best. Kalau mikir lawan bakal minder, karena postur mereka rata-rata tinggi dan langkahnya panjang,’’ tutur gadis kelahiran 19 Januari 2001 itu.

Strateginya berhasil. Alumnus SMAN 8 Surakarta 2019 tersebut finish tercepat dalam waktu 14,72 detik. Catatan itu melampaui rekor dunia 14,90 yang dia cetak di Paris 2019 Para Athletics Grand Prix, Prancis, Agustus silam.

‘’Sama sekali tak menyangka bisa pecah rekor dunia. Sebab lawan-lawan saya atlet senior. Jadi saya sangat bersyukur, karena hasil itu sekaligus memberi kesempatan saya untuk ikut Paralympic Games Tokyo 2020,’’ tambahnya.

Sebelumnya, tak ada persiapan khusus yang dilakukan putri pasangan Bejo Riyanto-Istikomah itu. Seperti biasanya, dia menjalankan program latihan. Bahkan cewek kelahiran Boyolali, 19 Januari 2001 tersebut terserang flu saat baru tiba di Dubai.

‘’Tiga hari saya tidak bisa turut latihan di Dubai, karena diserang flu. Tapi alhamdulillah, ternyata saya mendapat berkah, bisa memberikan yang terbaik bagi tim pelatnas NPCI, orang tua dan bangsa Indonesia,’’ ujar dia.(Setyo Wiyono)

Simak:Tunda Uji Coba Lokal, Pertajam Teknik Bertanding Adi Joko Dkk

Editor:Budi Sarmun