Mulai Terganggu Cuaca, Gantolle Lirik Bandara

Mulai-terganggu-cuaca-gantolle-lirik-bandara
START TERBANG: Seorang atlet gantolle melakukan start terbang di Bukit Joglo kawasan Waduk Gajahmungkur Wonogiri.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Latihan gantolle mulai terganggu cuaca yang tidak bersahabat di venue kawasan Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Kecenderungan curah hujan tinggi di wilayah Solo dan sekitarnya saat ini, membuat para atlet salah satu cabang olahraga dirgantara tersebut tak bisa lagi berlatih secara maksimal.

Maka mereka mulai melirik tempat lain, sebagai alternatif lokasi latihan. Selain kawasan pantai Parangtritis di wilayah Bantul, DI Yogyakarta, sejumlah atlet dan pengurus juga melirik bandara-bandara kecil yang tidak padat kegiatan.

‘’Kemungkinan kami akan berlatih ke Bandara Ngloram di Cepu. Dalam minggu-minggu ini akan cek lokasi, sekaligus mencari informasi jika ada hal-hal yang dibutuhkan di sana,’’ kata Ketua Pengprov Gantolle Jateng, Susetyoko ‘’Stik’’, Kamis (19/12).

Selain ke Cepu, pria yang juga atlet gantolle Karanganyar itu juga berencana melakukan survey ke bandara di daerah Gading, Gunungkidul. Dia mengaku belum pernah ke Gading, namun telah melihat kawasan tersebut. ‘’Makanya, nanti kami akan cek lagi. Jika memungkinkan dimanfaatkan juga untuk latihan gantolle kan sangat berguna bagi kami,’’ ujar dia.

Baca:Gantolle Jateng Siapkan Alternatif Tempat Berlatih

Simak: Pembalap Solo Raya Mengincar Tiga Besar

Static Towing

Jika latihan di kawasan Waduk Gajahmungkur atau daerah patai Parangtritis, para atlet dari wilayah eks Karesidenan Surakarta itu biasanya melakukan start terbang di perbukitan. Mereka harus membaca arah dan kecepatan angin, serta kecenderungan awan yang ada di atas mereka, sebelum meluncur.

Namun jika berlatih di bandara, mereka menggunakan sistem berbeda. ‘’Kalau di bandara, kami memakai teknik start terbang menggunakan static towing. Yakni layangan gantolle ditarik menggunakan tali yang diputar pakai mesin scooter, lalu pada ketinggian tertentu tali itu dilepas,’’ ungkap Stik.

Teknik tersebut memang tidak bisa digunakan maksimal untuk terbang tinggi dan jauh. Ketinggian layangan diperkirakan hanya mencapai sekitar seratus meter dari permukaan tanah. Karena itu, nomor yang memungkinkan dilakukan dalam latihan memakai static towing, hanya spot landing atau ketepatan mendarat.

‘’Static towing sangat tidak direkomendasikan untuk cross country atau lintas alam. Tetapi dari pada tidak latihan sama sekali, kalau ada tempat yang memungkinkan kami tetap gunakan static towing,’’ jelas dia.(Setyo Wiyono)

Baca:Sepak Bola CP Bertekad Genggam Kembali Juara

Simak:Stadion Kebo Giro Boyolali Dibangun Berstandar FIFA

Editor: Budi Sarmun