Siap-siap Hadapi Sirkuit Panjat Tebing Solo Raya 2020

Siap-siap-hadapi-sirkuit-panjat-tebing-solo-raya-2020
ASAH KEMAMPUAN: Sejumlah pemanjat pemula Solo mengasah kemampuan di papan boulder kompleks Stadion Manahan, Minggu (5/1).(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Pemanjat Pemula Solo Giatkan Latihan

SOLO,suaramerdekasolo.com – Para pemanjat di lingkup Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Surakarta mempersiapkan diri guna menghadapi sirkuit di pembuka tahun 2020. Pemanjat-pemanjat pemula yang biasa berlatih di kompleks Stadion Manahan Solo pun terus menempa diri sebelum menunjukkan debut mereka pada ajang sirkuit panjat tebing (SPT) Solo Raya tersebut.

‘’Rencananya, sirkuit yang telah menjadi kalender rutin itu digelar pada Januari ini. Pelaksananya bergantian. Nanti giliran FPTI Boyolali yang menggelar,’’ kata pengurus Pengkot FPTI Surakarta, Teddy Saba yang biasa membimbing latihan para pemanjat pemula di Manahan, Senin (6/1).

Dia mengaku belum mendapat informasi detail mengenai waktu penyelenggaraan sirkuit yang ditujukan guna meningkatkan kemampuan bibit-bibit atlet dari wilayah eks Karesidenan Surakarta tersebut. Namun kabar terakhir yang dia peroleh menyebutkan, ajang itu akan digelar pekan kedua atau ketiga bulan ini.

‘’Yang jelas, anak-anak tetap giat berlatih. Hanya saja, kendalanya adalah hujan hampir setiap sore. Hal itu mengganggu jadwal latihan, meski kami sadar saat ini memang musim hujan,’’ tuturnya.

Kelompok

Teddy menambahkan, sirkuit yang diperuntukkan bagi atlet-atlet pemula yang belum pernah menjadi juara Jateng dan nasional itu biasanya digelar dengan batasan kelompok. Yakni kelompok umum, mahasiswa dan pelajar.

‘’Tapi untuk SPT nanti, kami usulkan agar kelompok pelajar dibagi lagi menjadi dua, misal peserta SD digabung dengan SMP, sedangkan SMA terpisah. Jadi rentang peserta pelajar, tidak terpaut terlalu jauh,’’ tuturnya.

Dia mencontohkan, saat SPT di kampus Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta beberapa bulan lalu, di ajang final terjadi perbedaan rentang usia dan postur tubuh yang terpaut cukup jauh. Yakni saat ada peserta yang masih SD harus bersaing dengan peserta lain yang telah duduk di bangku SMA.

‘’Kalau kelompok pelajar dibagi dua, tentu perbedaan usia dan postur pesertanya tidak terlalu senjang,’’ tamba Teddy.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun