Tiga Atlet Paralayang Solo Bersiap ke Jogja Air Show

tiga-atlet-paralayang-solo-bersiap-ke-jogja-air-show
LATIHAN: Seorang atlet paralayang terbang dalam latihan di Bukit Kemuning kawasan Ngargoyoso, Karanganyar.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Latihan Terpisah Karena Faktor Cuaca

SOLO,suaramerdekasolo.com. Tiga atlet paralayang Solo bersiap menghadapi Jogja Air Show (Jogja Air Show) 2020. Mereka, Dewanto Basuhendro, Nyoman Sri ADD dan Hanifah Isnawati, kini tengah mempersiapkan diri menghadapi gelaran olahraga dirgantara yang bakal diselenggarakan di kawasan pantai Parangtritis, Bantul, DI Yogyakarta, 20-22 Maret mendatang.

Namun karena faktor cuaca yang beberapa bulan terakhir kurang bersahabat, ketiganya memilih untuk tidak selalu berlatih bersama. Hendro lebih sering berlatih di Bali, sekaligus memiliki urusan pekerjaan di Pulau Dewata tersebut. Sementara Nyoman dan Hanifah memilih berlatih di Bukit Kemuning kawasan Ngargoyoso, Karanganyar, kendati harus curi-ciri kesempatan jika cuaca memungkinkan.

‘’Kebetulan di kawasan Uluwatu, Bali, kecenderungannya cuaca masih relatif bagus. Tetap bisa digunakan untuk terbang, terutama mengasah diri di nomor-nomor yang bukan lintas alam atau cross coutry,’’ kata Hendro yang juga Ketua Pengkot Paralayang Surakarta, saat singgah di Sekretriat KONI Surakarta kompleks Stadion Sriwedari, Senin (2/3).

Khusus Ketepatan Mendarat

JAS yang memperebutkan Piala Kasau (Kepala Staf Angkatan Udara) hanya menggelar satu nomor untuk bersaing, yakni ketepatan mendarat (Ktm). Seperti agenda serupa tahun-tahun lalu, para atlet peserta lepas start dari Bukit Watu Gupit dan mendarat di area pasir pada kawasan Parangtritis.

‘’Persaingan bakal berlangsung sengit. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, ada 200-an atlet yang sudah mendaftarkan diri untuk berkompetisi di Parangtritis nanti,’’ ungkap dia.

Para pendaftar tersebut berasal dari berbagai daerah di Tanah Air. ‘’Atlet-atlet dari daerah Jawa Barat, Banten, Jawa Timur dan Sumatera Barat biasanya menjadi pesaing terberat dalam perhelatan JAS,’’ ujar Hendro.

Kendati demikian, peluang tetap terbuka bagi seluruh peserta pesta olahraga dirgantara itu. Sebab, selain faktor jam terbang, kompetisi tersebut juga dipengaruhi kondisi cuaca, seperti arah angin, kecepatan angin dan geotermal.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun