Saatnya Membenahi Olahraga Karanganyar

olahraga-karanganyar

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com -Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Karanganyar bakal menggelar musyawarah cabang (muscab), awal April bulan depan. Sejumlah kalangan, terutama insan olahraga, berharap muscab itu menjadi momentum untuk membenahi dunia olahraga di bumi intan pari yang prestasinya anjlok pada pekan olahraga provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2018 silam.

Menurut Ketua Pengurus Cabang Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Karanganyar, Langgeng Widodo, pembenahan bisa diawali dengan memilih figur ketua KONI yang tepat. Sebab jika salah pilih, kelembagaan KONI bisa kurang bagus yang pada giliranya prestasi akan lebih terpuruk. Menurut Langgeng, sebenarnya mudah memilih figur ketua KONI untuk memajukan dunia olahraga.

Pertama, kata dia, carilah figur yang punya komitmen memajukan olahraga. “Orang yang seperti itu biasanya mau jadi ujung tombak sekaligus ujung tombok,” katanya pada sejumlah wartawan di Karanganyar, Selasa (3/3).

Selain berkomitmen, kata dia, figur itu juga harus punya kemampuan manajerial untuk menata organinasi atau kelembagaan KONI serta menjadi motivator bagi cabang-cabang olahraga yang menginduk ke KONI. Lebih dari itu, figur itu juga punya pengalaman matang dalam memimpin atau membina cabang olahraga, syukur-syukur juga punya prestasi agar menjadi inspirasi.

Pihaknya mengingatkan, jangan serahkan jabatan ketua KONI pada pensiunan PNS/ASN yang hanya akan digunakan sebagai ajang aktualisasi karena sudah tidak lagi punya pekerjaan atau tidak punya kegiatan lain. Kalau itu dilakukan, maka pertaruhannya sangat mahal.

“Bolehlah KONI dipimpin pejabat atau mantan pejabat, tapi figur itu harus punya kemampuan manajerial dan pengalaman mengurus olahraga,” kata dia.

Darsono, pemerhati olahraga dari Karangpandan menambahkan, persoalan di tubuh KONI Karanganyar tidak hanya sebatas menyangkut figur ketua dan pengurusnya, tapi juga menyangkut anggaran atau pendanaan. Menurut dia, anggaran untuk KONI di Karanganyar mungkin paling kecil di Soloraya. Bahkan anggaran yang dialokasikan di APBD itu masih banyak “titipan” oleh orang-orang yang punya kepentingan.

Sehingga yang terjadi, besaran anggaran yang dialokasikan berdasar kedekatan atau kewenangan yang dimiliki, bukan karena prestasi. “Ini tidak boleh terjadi. Kalau olahraga di Karanganyar mau maju, maka cabang olahraga yang berprestasi harus diprioritaskan, termasuk dalam pendanaan,” jelasnya.

Menurut dia, penyusunan anggaran di KONI bisa mengadopsi model musyawarah rencana pembangunan atau musrenbang, yang mellibatkan cabang-cabang yang berprestasi. Anggaran untuk pembinaan bagi para atlet dan pelatih serta sarana dan peralatan untuk latihan harus mendapat prioritas.

“Selama ini pendanaan untuk olahraga hanya bersumber dari APBD. Mestinya KONI juga harus mencari alternatif lain untuk pembinaan olahraga, misalnya dari CSR perusahaan swasta atau BUMN,” jelasnya.(*)

Editor : Budi Sarmun