Fadilah Umar Optimalkan Daring

fadilah-umar-optimalkan-daring
Fadilah Umar.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

SELURUH awak pelatnas National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) untuk proyeksi ASEAN Para Games (APG) Filipina yang digelar di Solo sejak Mei silam, segera dipulangkan. Cabang balap sepeda disabilitas atau para cycling, termasuk di dalamnya.

Maka,pelatih pelatnas para cycling Fadilah Umar pun bersiap. Dia akan mengoptimalkan penggunaan komunikasi online guna memberi program latihan kepada para pembalap yang rencananya dipulangkan akhir Maret nanti.
‘’Program latihan akan kami berikan lewat grup whatshapp. Lalu, laporan pelaksanaan latihan mandiri para atlet di daerahnya masing-masing juga melalui media daring itu,’’ kata Umar.

Sepuluh pembalap dari berbagai daerah di Tanah Air menghuni pelatnas yang disiapkan untuk pesta olahraga disabilitas terbesar se-Asia Tenggara itu. Namun jadwal pelaksanaan di Filipina beberapa kali tertunda, terutama karena antisipasi semakin menyebarnya serangan virus corona.

Selain urusan pelatnas, Umar juga telah menjalankan kegiatan secara daring, terutama sejak Solo dinyatakan kejadian luar biasa (KLB) corona, Jumat (13/3) malam. Yah, sebagai dosen di Fakultas Keolahragaan (FKor) UNS Surakarta, pria 47 tahun tersebut diharuskan tetap melakukan proses pembelajaran secara daring kepada mahasiswa, guna menghindari tatap muka.

‘’Jadi, sekarang semuanya ya serba daring, demi mengantisipasi penyebaran corona. Mau tidak mau, penggunaan gawai untuk pekerjaan juga semakin tinggi. Rabu (18/3) lalu bahkan saya hingga sekitar jam 01.00 masih berdiskusi masalah perkuliahan dengan mahasiswa,’’ tutur doktor Pendidikan Olahraga alumnus Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta tersebut.

Umar cukup lama berkiprah dengan kalangan olahraga disabilitas. Suami Endang Antarini itu telah berkecimpung dalam kepelatihan boccia, lalu menangani sepak bola celebral palsy (CP), serta terakhir menjadi koordinator sekaligus pelatih para cycling.

Selama ini, warga Menjing RT 1 RW 8 Donohudan, Ngemplak, Boyolali itu intens mengawal latihan para pembalapnya dalam latihan di jalan raya maupun di velodrome Manahan. Pria kelahiran Boyolali, 27 September 1972 itu juga tetap memantau ketika para atletnya menjalani latihan ergo di kompleks penginapan atlet.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun