Terapkan Teknologi Daring bagi Ratusan Atlet Pelatnas

terapkan-teknologi-daring-bagi-ratusan-atlet-pelatnas
JOGGING: Sprinter juara dunia kelas T42 Kharisma Evi Tiarani (kanan) melakukan jogging bersama rekannya saat menjalani pelatnas di Stadion UNS Surakarta kampus Kentingan, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Jaga Performa, NPCI Tekankan Latihan Individual

SOLO,suaramerdekasolo.com. Teknologi daring diterapkan Pengurus Pusat National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) bagi ratusan atletnya yang dipulangkan dari pelatnas karena wabah virus corona. Dua ratus enam puluh sembilan atlet pelatnas proyeksi ASEAN Para Games (APG) Filipina dan 35 atlet pelatnas Paralympic Games Tokyo 2020, diwajibkan melaporkan pengerjaan program latihan hariannya.

‘’Kami memanfaatkan sport technology, aplikasi sportlyzer untuk penerapan latihan individual atlet di rumah. Jadi para pelatih memberikan program latihan rutin per pekan sekaligus contoh-contoh videonya, lalu para atlet melaporkan pengerjaan program masing-masing, lewat aplikasi daring itu,’’ kata Ketua IV (Bidang Penelitian dan Pengembangan/Litbang) NPCI, Sapta Kunta Purnama, Minggu (12/4).

Pria yang juga Dekan Fakultas Keolahragaan (FKor) UNS Surakarta itu mengungkapkan, program itu diterapkan mulai awal April, setelah seluruh atlet pelatnas dipulangkan dari tempat training camp (TC)-nya di Solo. Latihan individual di rumah bertujuan memelihara kemampuan diri pada atlet yang telah dicapai selama pelatnas, sejak Mei 2019.

Performa Menurun

Sapta Kunta Purnama (suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

Diakuinya, program latihan individual tersebut tak mungkin mencapai hasil maksimal, sebagaimana latihan terpusat. Latihan dilihat dari aspek fisik, teknik, strategi dan mental, tentu tak bisa sepenuhnya diterapkan perorangan. Butuh kejujuran pula dari seluruh atlet dalam mengerjakan dan melaporkan aktivitasnya.

‘’Menjelang dipulangkan, persiapan para atlet pelatnas sebenarnya sudah 90-95 persen. Kini, dengan latihan individual, pasti performa atlet menurun berkisar 20-15 persen. Tapi hal itu jadi langkah terbaik. Sebab negara-negara lain peserta APG juga mengalami kondisi serupa,’’ tambah Kunta.

APG Filipina telah mengalami dua kali penundaan. Semestinya, pesta olahraga disabilitas se-Asia Tenggara itu digelar Januari namun ditunda menjadi Maret 2020 karena problem anggaran tuan rumah Filipina. Namun lagi-lagi perhelatan itu ditunda dalam waktu yang belum dipastikan, karena dunia dilanda wabah virus corona.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun