Kembali Desentralisasi, Pesilat Pelatda Jateng Terus Dipantau

kembali-desentralisasi-pesilat-pelatda-jateng-terus-dipantau
ASAH KEMAMPUAN: Pesilat pelatda Jateng Nadia Haq Umami Nur Cahyani dan Khoirudin Mustakim mengasah kemampuan diri saat masih berlatih bersama, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

SOLO,suaramerdekasolo.com. Sembilan pesilat Pelatda Jateng terus dipantau perkembangannya, meski PON XX/2020 di Papua telah resmi ditunda menjadi 2021. Kendati telah dipulangkan dari training center (TC) sejak 24 April lalu, mereka tetap menjalankan latihan secara mandiri di rumah masing-masing, terutama demi mencegah persebaran virus corona.

‘’Jadi awak pelatda yang sempat menjalani sentralisasi di Salatiga selama Maret-April lalu, karena kini terjadi pandemi Covid-19, programnya kembali menjadi desentralisasi. Prinsipnya, mereka tetap berlatih di daerah masing-masing, serta performanya tetap kami pantau,’’ kata pelatih kepala pelatda pencak silat Jateng, Indro Catur Haryono, Kamis (4/5).

Manajer tim pencak silat Jateng Darmadi menambahkan, para atlet dari berbagai tersebut tetap diwajibkan berlatih intensif sambil menunggu perkembangan penanganan Covid-19. Harapannya, kondisi fisik dan performa pesilat-pesilat yang telah lolos prakualifikasi PON di Jakarta pada 2019, dapat tetap terjaga.

‘’Kami juga tetap menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai rencana penyelenggaraan PON XX tahun depan,’’ jelas dia.

Target

Tim pencak silat tersebut ditargetkan memburu tiga medali emas pada pesta olahraga terbesar nasional mendatang. Dikukuhkan Ketua Umum Pengprov Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jateng Harry Nuryanto pada 7 Maret lalu itu, TC akhirnya dihentikan pada 24 April. Sebulan lebih, mereka menjalani TC karantina di tengah pandemi Covid-19, sebelum Pemerintah resmi menunda PON.

‘’Hingga kini, para atlet tetap melahap program latihan yang diberikan pelatih secara jarak jauh. Tentu kami juga tidak ingin kemampuan mereka benar-benar merosot,’’ tandas Indro Catur.

Sembilan pesilat awak tim pelatda tersebut adalah Zidni Rahma Amaly (tunggal putri), Sapto Purnomo (tanding kelas E), Nadia Haq Umami Nur Cahyani (kelas B). Ketiganya dari Solo, serta Khoirudin Mustakim asal Klaten.

Lima lainnya, Faradlillah Rahma Ajeng (Banyumas/kelas F), Dela Kusumawati (kelas C/Kota Tegal), Annas Rais Arni Raihan (Kudus/kelas G), Barata Yuda (Wonosobo/kelas C) dan Triana Ragil Rahmayani (Banjarnegara/ kelas D).(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun