Dites, Kondisi Fisik Atlet Para Triathlon Relatif Terjaga

Dites-kondisi-fisik-atlet-para-triathlon-relatif-terjaga
JELANG TES: Sejumlah atlet, pelatih dan manajer tim pelatnas para triathlon National Paralympic Committee Indonesia menjelang tes fisik di Stadion Kridanggo Salatiga.(suaramerdekasolo.com/dok)

*Tiga Orang Jalani Pengecekan VO2Max di Salatiga

SOLO,suaramerdekasolo.com. Kondisi fisik dan kebugaran terkini atlet-atlet para triathlon National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) yang menjalani pelatnas mandiri jarak jauh, bervariasi. Namun berdasarkan tes VO2Max yang dilaksanakan pada Senin (22/6), kondisi mereka relatif masih terjaga.

‘’Hasilnya secara rata-rata kebugaran jasmani mereka tetap terjaga, meski selama ini menjalani latihan di daerah masing-masing secara mandiri dengan program jarak jauh,’’ kata manajer tim pelatnas para triathlon NPCI, Joko Sulistyono, Selasa (23/6).

Empat atlet mengikuti tes tersebut. Tiga orang, Achmad Zein yang merupakan atlet NPCI Salatiga, Ahmad ‘’Cimex’’ Saidah (NPCI Jepara) dan Ratifah (NPCI Boyolali) menjalani tes di Stadion Kridanggo, Salatiga. Sementara Muchlis Londong melakukan tes di Makassar, serta menyetorkan hasilnya secara langsung melalui jaringan online. Tes kebugaran di Kridanggo dikawal langsung salah seorang pelatih pelatnas, Agni Herarta Anindya Satria.

‘’Saidah yang menggunakan wheelchair, serta Zein dan Muchlis mencatatkan hasil yang baik. Hanya Ratifah yang kondisinya agak menurun,’’ ungkap Joko.

Keterbatasan

Salah seorang atlet, Ahmad Zein mengaku merasakan ada sedikit penurunan kondisi fisiknya, dibandingkan saat training camp (TC) pelatnas di Solo, sebelum dipulangkan karena KLB Covid-19 pada akhir Maret lalu. ”Saat di Solo, performa bisa seratus persen, sekarang latihan mandiri di rumah mungkin turun menjadi 85-90 persen. Beberapa faktor yang jadi penghambat misalnya kendala sarana-prasarana berlatih dan pengawasan langsung dari jajaran pelatih,” tutur dia.
Sebenarnya ada dua atlet lain yang juga menjadi awak tim pelatnas para triathlon proyeksi ASEAN Para Games (APG) Vietnam 2021. Keduanya adalah Salimin yang tinggal di Muna, Sulawesi Tenggara, dan Mistiyah di Purworejo. Namun dua atlet tersebut belum bisa mengikuti tes karena keterbatasan fasilitas.

‘’Salimin tidak memiliki wheelchair dan handbike di Muna, sehingga tidak bisa menjalani tes. Tapi dia tetap rajin berlatih renang di laut. Sedangkan Mistiyah belum bisa ikut, karena stadion di daerahnya belum dibuka karena pandemi Covid-19,’’ jelas Joko Sulistyono.

Para triathlon merupakan persaingan yang menggabungkan tiga cabang olahraga sekaligus. Yakni diawali renang 750 meter, langsung dilanjutkan balap sepeda sepanjang 20 km, serta diakhiri dengan lari lima kilometer.

‘’Kami juga menyusun rencana tes untuk balap sepeda dan renang. Tapi khusus renang ada kendala kolam renang di berbagai daerah yang belum dibuka akibat pandemi korona,’’ ujar Joko.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun