Ketajaman Bidikan Petembak NPCI Jadi Sorotan

ketajaman-bidikan-petembak-npci-jadi-sorotan
BRIEFING: Pelatih kepala pelatnas menembak National Paralympic Committee Indonesia, Saridi (kanan), memberikan briefing kepada atlet dan pendukung pelatnas di Solo.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Atlet Jateng Mengkilap di Dua Kejuaraan Nasional

SOLO,suaramerdekasolo.com. Ketajaman bidikan para petembak pelatnas National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) menjadi sorotan di kalangan Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin). Sebab, atlet-atlet difabel yang diasah NPCI untuk proyeksi Paralympic Games Tokyo 2021 itu mampu mengemas skor bagus dalam kejuaraan-kejuaraan umum.

‘’Catatan positif petembak-petembak NPCI jadi sorotan pelatih-pelatih nasional Perbakin. Banyak yang menanyakan pola latihan kami,’’ ungkap pelatih pelatnas menembak NPCI, Saridi, Selasa (28/7).

Empat petembak yang menghuni pelatnas NPCI proyeksi Paralympic Games Tokyo 2021 itu adalah Hanik Puji Astuti, Bolo Triyanto, Ratmini (ketiganya atlet NPCI Jateng), serta Ahmad Ridwan (NPCI Papua). Menurut Saridi, program dan pola latihan mereka terima sama dengan pola yang dilakukan di Perbakin. Bahkan penerapannya lebih rumit, karena berkait disabilitas masing-masing petembak.

‘’Tak mudah mendapatkan posisi zero. Butuh waktu lama mencari posisi paling nyaman bagi mereka untuk duduk dan membidik target ,’’ kata Saridi.

Belum Lama Berlatih

Pada dua kejuaraan nasional menembak, Seri 1 Jateng Open (21 Juni 2020) dan Kapolri Cup (23-26 Juli 2020), Hanik menunjukkan taringnya. Petembak kelas disabilitas SH1 itu bersaing dengan atlet-atlet umum di nomor 10 meter air rifle. Dia mencatatkan nilai 594 poin untuk menjadi runner up Jateng Open, serta skor 590 poin di urutan empat Kapolri Cup.

Rekannya sesama atlet pelatnas dari NPCI Papua, Ahmad Ridwan menorehkan skor 550 poin dan 555 poin di arena air pistol. Sementara Bolo dan Ratmini tidak turun, karena kelas disabilitasnya tidak terakomodasi pada dua kejuaraan yang menjadi try out pelatnas NPCI.

Saridi yang juga anggota Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan Kartasura mengungkapkan, para atletnya relatif belum lama berlatih. Prajurit berpangkat sersan kepala itu menyebutkan, Hanik dan Bolo baru berlatih sekitar lima tahun, sedangkan Ridwan dan Ratmini sekitar tiga tahun.

‘’Butuh ketelatenan, serta selalu membesarkan hati para atlet sejak awal. Saya selalu katakan, kekurangan fisikmu adalah kelebihanmu. Alhamdulillah, mental berlomba mereka kian stabil,’’ tutur Saridi.(Setyo Wiyono)

Editor:Budi Sarmun