Pemanjat Remaja Solo Terlempar dari Lima Besar di Semarang

pemanjat-remaja-solo-terlempar-dari-lima-besar-di-semarang
MENEMPA DIRI: Salah seorang pemanjat remaja Solo, Nanda Devi Saba menempa diri pada jalur lead di papan panjat Arcapada Unisri.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Performa Menurun di Arena Selekda Jateng

SOLO,suaramerdekasolo.com. Lima pemanjat remaja Solo, terlempar dari lima besar pada seleksi daerah (selekda) yunior yang digelar Pengprov Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Jateng, Minggu (6/9). Performa para atlet Kota Bengawan itu menunjukkan penurunan saat bersaing di arena selekda yang diselenggarakan di kompleks Stadion Jatidiri Semarang tersebut.

Para atlet Solo yang diturunkan dalam persaingan itu adalah Fathah Adi Arrazaq, ArfianTegar Saputra dan Hamdi Arya Keenan Wicaksono di kelompok putra. Dua lainnya, atlet putri yakni Merry Arisyah Saputri dan Nanda Devi Saba.

‘’Lima atlet putra dan lima putri terbaik yang dijaring dalam selekda. Anak-anak tidak ada yang lolos menembus lima besar,’’ kata Ketua Harian Pengkot FPTI Surakarta, Marjiyanto ‘’Ipunk’’ Bialangi Kasim, Senin (7/9).

Devi yang pada Kejurda Yunior Jateng tahun lalu menempati peringkat tiga, di ajang selekda hanya mampu berada di urutan delapan. Empat rekannya berada di bawah peringkat sepuluh. Seleksi digelar untuk disiplin nomor lead dan boulder.

Menurunnya kemampuan atlet-atlet muda Solo terutama akibat cukup lama mereka tidak berlatih. Sebab, sejak Solo dinyatakan berstatus kejadian luar biasa (KLB) virus korona pada 13 Maret lalu, kompleks Stadion Manahan ditutup total. Padahal, venue panjat tebing berada di kompleks pusat olahraga masyarakat Kota Bengawan itu.

Kurang Latihan

Papan-papan panjat yang ada di sejumlah kampus dan sekolah juga tidak bisa dimanfaatkan, karena lokasinya pun ditutup dari seluruh aktivitas. Bibit-bibit atlet dan pemanjat remaja diminta berlatih di rumah. Mereka hanya bisa menjaga kesehatan dan kebugaran fisik masing-masing.

Para pemanjat baru bisa kembali berlatih di papan vertikal, setelah FPTI setempat mendapat izin berlatih di markas Mapala Arcapada Universitas Slamet Riyadi (Unisri), 8 Agustus lalu. Itu pun waktu latihannya hanya Sabtu dan Minggu.

‘’Jadi memang waktu latihan anak-anak sangat kurang. Apalagi hampir lima bulan, mereka sama sekali tidak berlatih di wall. Tapi paling tidak, selekda itu bisa memacu kembali mental kompetisi anak-anak,’’ ujar Teddy Saba, pengurus FPTI yang biasa mendampingi latihan para atlet muda.(Setyo Wiyono)

Editor: Budi Sarmun