Gantolle Jateng Kembali Mulai Merambah Wonogiri

gantolle-jateng-kembali-mulai-merambah-wonogiri
LATIHAN: Atlet gantolle Jateng asal Karanganyar, ‘’Stik’’ Susetyoko mengudara dalam latihan di Gunung Telomoyo, Kabupaten Semarang.(suaramerdekasolo.com/Setyo Wiyono)

*Selingan Terbang di Telomoyo

SOLO,suaramerdekasolo.com. Tim gantolle Jateng mulai kembali merambah Wonogiri. Para atlet senior-yunior dari berbagai daerah mengudara dari launching ramp Bukit Joglo dan terbang di kawasan ketinggian Waduk Gajahmungkur, Sabtu-Minggu (26-27/9).

‘’Cuaca mulai lebih bagus di Wonogiri, pada beberapa hari terakhir. Kecepatan dan arah angin sudah sesuai dengan apa yang kami butuhkan. Permukaan air waduk juga mulai menurun. Ini penting, karena area landing kami di pinggir Waduk Gajahmungkur,’’ kata Ketua Pengprov Gantolle Jateng, ‘’Stik’’ Susetyoko, Senin (28/9).

Sejumlah atlet telah menjajal untuk terbang lagi dari tempat start terbang berketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Selain Stik yang berasal dari Karanganyar, atlet-atlet lain yang mengasah performa mengudara di antaranya Sulis Widodo (Solo), Supardi (Karanganyar), Isah Iriawan (Klaten), Ayyas Yahya dan Kharisma (Banyumas). Mereka tidak hanya meningkatkan penguasaan terbang, tetapi juga menajamkan lagi kecermatan dalam melakukan pendaratan.

‘’Kalau di Wonogiri, kami bisa berlatih terbang lintas alam (cross country/XC) dan ketepatan mendarat (spot landing),’’ tutur Stik.

Dua-Tiga Sortie

Sebab, jarak dan waktu tempuh antara area landing dengan take off, tidak terlalu panjang. Jika cuaca sangat bersahabat, seorang atlet bisa menjalani latihan dua-tiga sortie. Situasi berbeda jika mereka berlatih di kawasan Rawa Pening dan meluncur dari Gunung Telomoyo yang berketinggian 1.894 mdpl di wilayah Kabupaten Semarang. Karena jarak dan waktu tempuh cukup jauh, maka seorang atlet biasanya hanya berkesempatan sekali meluncur terbang dalam sehari.

‘’Meski demikian, selama kondisi cuaca sama-sama memungkinkan, kami akan bergantian gunakan venues Wonogiri dan Telomoyo untuk berlatih. Khusus Telomoyo, lebih representatif untuk XC karena take off-nya lebih tinggi dan biasanya termalnya lebih besar,’’ tutur Stik.

Latihan bersama tersebut bertujuan untuk menambah jam terbang atlet-atlet pemula. Di sisi lain juga meningkatkan performa para atlet senior guna menghadapi PON Papua 2021.(Setyo Wiyono)

Editor: Budi SArmun