Mantapkan Pelatih, NPCI Surakarta Pacu Pengembangan Potensi Atlet Difabel

mantapkan-pelatih-npci-surakarta-pacu-pengembangan-potensi-atlet-difabel
PELATIHAN: Pelatihan kepada pelatih cabang-cabang olahraga disabilitas digelar National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Surakarta di Solo, Kamis (8/10).(sms.com/wy)

SOLO,suaramerdekasolo.com. Delapan belas pelatih di lingkup National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Surakarta dimantapkan guna lebih mengembangkan potensi atlet-atlet difabel di Solo. Kemampuan mereka lebih dimatangkan dalam pelatihan pelatih tingkat dasar dan penanganan cedera yang digelar otorita olahraga disabilitas Kota Bengawan tersebut di daerah Jebres, Kamis (8/10).

‘’Mengingat situasi pandemi Covid-19, peserta kami batasi 18 pelatih dari sembilan cabang olahraga unggulan di Solo. Pelatihan pun menerapkan protokol ketat kesehatan,’’ kata Ketua Umum NPCI Surakarta, Bangun Sugito.

Cabang-cabang tersebut antara lain atletik, tenis meja, bulutangkis, renang, boccia, panahan, angkat berat dan catur. Menurutnya, atlet-atlet Solo dari cabang-cabang itu bakal memperkuat tim NPCI Jateng yang diproyeksikan untuk Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2021 di Papua. Bahkan beberapa atlet juga masuk pelatnas Merah-Putih untuk menghadapi multievent internasional.

‘’Melalui pelatihan ini, saya harap para pelatih bisa lebih menggali dan mengembangkan potensi atlet Solo untuk masa-masa mendatang,’’ tandas Sugito.

Apresiasi Positif

Ketua Umum NPCI Jateng Osrita Muslim yang diwakili Sekretaris Priyano, serta Kabid Olahraga Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Surakarta Maretha Dinar Cahyono mengapresiasi positif kegiatan itu. Menurut Priyano, NPCI Surakarta selama ini menjadi penyumbang atlet terbanyak di kontingen Jateng pada ajang Peparnas.

‘’Solo selalu menjadi juara umum pada Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jateng. Maka siapkan juga atlet-atlet Solo untuk mengikuti selekda pelatda Jateng untuk Peparnas di Papua mendatang,’’ tutur dia.

Pada forum itu, narasumber Slamet Widodo memaparkan tentang sistem pelatihan yang terprogram agar para atlet mencapai performa puncaknya saat bertanding. ‘’Program latihan harus diterapkan bertahap dan berurutan, serta terukur, sehingga pada fase puncak para atlet mampu bersaing secara maksimal,’’ jelasnya.

Sementara narasumber lainnya, Bambang Wijanarko menekankan agar para pelatih mempehatikan kondisi individu atletnya, guna menghindari cedera. ‘’Pemberian materi latihan harus disesuaikan umur atlet, jenis kelamin, karakter, pengalaman, pemanasan, serta kelainan postur,’’ ujarnya.(wy)

Editor: Sarmun