Solo Siapkan 13 Karateka Pelajar untuk Hadapi Popda Jateng

solo-siapkan-13-karateka-pelajar-untuk-hadapi-popda-jateng
Surakarta di Gelanggang Pemuda Bung Karno Manahan.(sms.com/wy)

SOLO,suaramerdekasolo.com. Tiga belas karateka remaja Solo disiapkan guna menghadapi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jateng 2021. Mereka merupakan para atlet pelajar tingkat SMP dan SMA, termasuk karateka yang menjadi siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) Surakarta.

‘’Kuota tim karate untuk tingkat kota/kabupaten sejumlah 15 atlet, rinciannya delapan putra dan tujuh putri. Tapi kami menyiapkan 13 atlet, tujuh putra dan enam putri,’’ kata pelatih karate tim Popda Surakarta Agus Muzamil, Rabu (30/12).

Menurut lelaki yang juga pelatih karate KKO SMPN 1 Surakarta tersebut, tidak mudah memenuhi kuota atlet yang telah ditetapkan. Sebab, cukup sulit mencari karateka pelajar untuk menempati slot di kelas-kelas berat. Karena itu, dirinya lebih memilih berkonsentrasi mempersiapkan atlet-atlet yang selama ini dinilai memiliki kemampuan cukup andal.

Selain itu, pihaknya juga masih menunggu kejelasan batasan usia peserta Popda khusus bagi cabang karate. Sebab berdasarkan petunjuk teknis (juknis) beberapa waktu lalu, batasan usia minimal pesertanya 16 tahun dan maksimal kelahiran 2003 (18 tahun).

Tak Ada Seleksi Terbuka

Agus Muzamil yang juga pelatih Pengkot Federasi Olahraga Karatedo Indonesia (Forki) Surakarta mengungkapkan, jika batasan usia tersebu memang benar-benar diterapkan, maka tidak ada atlet pelajar SMP yang bisa turut bertarung di arena Popda. ‘’Saya telah berusaha menghubungi Pengprov Forki Jateng, tapi hingga kini belum ada penjelasan lebih rinci,’’ tutur dia.

Sambil menunggu penjelasan lebih lanjut, pihaknya mulai merancang tim karate pelajar tersebut. Pada rancangan sementara, para atlet kelas dua dan tiga SMP yang punya potensi bagus dimasukkan dalam kerangka tim. Hasil Popda tingkat Kota Surakarta dan kualifikasi tingkat Solo Raya pada 2019 digunakan sebagai salah satu referensinya.

‘’Tidak ada seleksi secara terbuka untuk membentuk tim. Sebab, anggaran untuk seleksi pun tidak ada. Tapi berdasarkan pantauan kami, beberapa kelas yang punya atlet bagus tetap ada seleksi tertutup,’’ jelas Agus.(wy)

Editor: Sarmun