Membesut Teknik, Mengelola Psikologis Petembak Pelatnas

membesut-teknik-mengelola-psikologis-petembak-pelatnaslola
BIDIK SASARAN: Petembak pelatnas NPCI Ahmad Ridwan berkonsentrasi membidik sasaran dalam latihan di Hartono Trade Center (HTC) Solobaru, Rabu (20/1).(sms.com/wy)

*Ridwan dan Ratmini Buru MQS di Dubai

SOLO,suaramerdekasolo.com. Para petembak pelatnas National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) terus digembleng dalam mewujudkan proyeksi menuju Paralympic Games 2021 di Tokyo, Jepang. Dua atlet yang telah lolos minimum qualification score (MQS) dan menggenggam tiket menghadapi persaingan di pesta olahraga disabilitas terbesar sejagat itu. Keduanya, Bolo Triyanto di kelas disabilitas SH2 R5 prone dan Hanik Puji Astuti (SH1 R2 standing), didorong agar bidikannya kian tajam.

Sementara dua atlet lainnya, Ahmad Ridwan (SH1 Pi1/pistol) dan Ratmini (SH2 R4 standing), ditempa agar mampu menembus MQS dalam kejuaraan dunia menembak di Dubai, 14-27 Maret mendatang. Pada skoring di arena training camp (TC) pelatnas menembak kompleks Hartono Trade Center (HTC) Solobaru, pekan lalu, Ratmini mengemas 615 poin (MQS 618 poin) dan Ridwan 543 poin (MQS 540 poin).

‘’Kami terus membesut teknik menembak mereka, terutama yang tengah bersiap mencapai MQS. Pengelolaan mental para atlet juga diusahakan makin baik,’’ kata pelatih pelatnas menembak NPCI, Saridi, Kamis (21/1).

Anggota Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan, Kartasura itu menjelaskan, masalah teknik yang masih muncul terutama konsistensi arah laras senjata saat akan melepaskan bidikan. Selain itu kenyamanan para atlet dalam menggenggam dan mengarahkan senapan atau pistolnya, serta setelan tempat duduk atau kursi roda yang digunakan saat mengicar target.

Sementara pengelolaan psikologis para petembak merupakan salah satu faktor yang juga sangat penting. ‘’Menembak merupakan olahraga yang butuh konsentrasi sangat tinggi. Maka kalau emosi tak bisa mereka kendalikan secara baik, bakal mengganggu capaian bidikannya,’’ tandas Saridi.(wy)

Editor: Sarmun